Ekstraksi Kader Eksakta

“Rasanya bui bukan apa-apa buat saya. Apalagi, bukankah ditahan itu suatu ‘resiko bisnis’? Kata orang, penjara itu ibarat ‘Perguruan Tinggi Terbaik’. Asal saja kita tidak dijebloskan karena mencuri. Saya rasakan benar kebenaran misal itu. Sedangkan nonton bioskop perlu ongkos, apalagi demokrasi. Dan ongkos itu perlu dibayar! Iuran saya sebenarnya sedikit sekali. Jalan masih panjang. Apapun yang terjadi, mesti kita tempuh…” (Mahbub Djunaidi, 1978)

Menukil pernyataan Mahbub di atas, yang ditujukan untuk membesarkan hati keluarganya saat menjadi tahanan politik Orde Baru, pernah muncul kenakalan dalam benak saya. Secara kasat mata, gerakan sosial tengah mengalami perubahan akibat dari loncatan besar teknologi komunikasi. Gerakan sosial via internet dalam skala soft maupun hard sama-sama punya daya gempur mematikan.[1]

Imajinasi saya bekerja dan mulai berandai-andai. Jika kader PMII yang berbasis jurusan teknologi informasi, komputer, maupun sejenisnya punya kemampuan meng-hack situs-situs pemerintah untuk melancarkan protes sosial atas isu tertentu maka sudah pasti demo ratusan orang nyaris tiada berarti. Seluruh media akan meliputnya dan menjadikannya headline. Pemerintah pun langsung merespon. Gerakan semacam ini akan mudah dilakukan manakala kita punya sekumpulan kader berkeahlian layaknya cyber army ala kelompok Anonymous. Baca lebih lanjut

Mendorong Kiprah PMII di ASEAN

Catatan Jelang ASEAN Plus 8 Youth Assembly

aseanKeterlibatan PMII di berbagai forum pemuda atau mahasiswa internasional sudah dimulai sejak era Mahbub Djunaedi dan Zamroni. Pada masa Orde Baru (Orba), frekuensinya agak menurun akibat keberadaan KNPI dianggap sebagai organisasi yang merepresentasikan berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia dalam forum-forum internasional. Kelompok Cipayung yang didirikan belakangan dan pada awalnya sempat dicurigai penguasa hanya dipandang sebelah mata oleh rezim mengingat anggota kelompok Cipayung juga merangkap sebagai anggota KNPI.

Geliat PMII di kancah internasional baru kembali terlihat dipenghujung Orde Baru setelah PMII berjejaring dengan banyak embassy serta NGO di tingkat nasional dan global. Di masa post-Orba, undangan dalam forum-forum internasional sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi PMII meski dengan intensitas yang fluktuatif.

Agak sedikit melangkah, PB PMII periode 2000-2003 di bawah kepemimpinan Nusron Wahid pernah menggelar forum youth leaders tingkat ASEAN tahun 2002 di Jakarta. Tema besar yang diangkat terkait dengan kepemimpinan kaum muda di ASEAN. Penulis cukup kesulitan, meski telah berkomunikasi dengan beberapa ketua bidang dan pengurus lainnya di periode tersebut, melacak dokumen resmi kegiatan maupun kliping berita sehingga tidak bisa mendekripsikan kegiatan tersebut pada tulisan ini. Baca lebih lanjut

Harlah PMII Ke-53: Upaya Mencapai Kebaikan Kolektif

Oleh: Dwi Winarno

17 April 2013, PMII menapaki tahun ke-53. Para founding fathers-nya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya berperan sebagai underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.

Dalam ingatan penulis, kecermatan mengambil keputusan yang dilakukan oleh leader PMII menjadi penyebab organisasi ini dapat bertahan. Ada dua contoh menarik yang belum tercatat di buku atau beberapa tulisan yang terkait dengan sejarah PMII yang layak diceritakan pada tulisan ini. Baca lebih lanjut

Membaca The Crisis of Zionism: Anti-Zionisme di dalam Zionisme

the crisis of zionismSuasana haru diliputi kegembiraan luar biasa terjadi dalam Sidang Majelis Umum PBB tanggal 29 November 2012. Pangkalnya, pengaruh Amerika semakin pudar setelah gagal menjalankan misi diplomatik menjegal status baru bagi Palestina di PBB. Hanya mendapatkan dukungan dari 8 negara lainnya, termasuk Israel, Amerika harus mengakui bandul “imperium” sedang menjauh dari mereka. Sebanyak 138 negara mendukung peningkatan status Palestina dari negara non-member observer entity menjadi non-member observer state. Tekanan Amerika hanya berhasil menggoyahkan negara-negara yang semula mendukung beralih abstain. Jerman dan Inggris termasuk di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Subchan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim

Subchan ZEAktor politik, sipil dan militer, jelang transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru pasti mengingat nama Subchan ZE. Tokoh politik dari Nahdlatul Ulama yang sinarnya redup selepas kematian misterius akibat kecelakaan lalu lintas di Riyadh, Arab Saudi tahun 1973. Beberapa saat sebelum kematiannya, ia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Baca lebih lanjut

Kegagalan Desentralisasi di Indonesia:

Telaah Atas Pembacaan Vedy R. Hadiz [1]

Pendahuluan
Sebagaimana umumnya negara yang tengah mengalami fase transisi demokrasi, Indonesia mengalami gejala demokratisasi dan liberalisasi. Baik dalam tataran teoritik –sebagaimana yang dikonspesikan oleh kalangan neo-institutionalist– maupun praksis, demokratisasi dan liberalisasi ini juga mendorong terjadinya perubahan-perubahan, terutama dalam formasi institusi. Di Indonesia, salah satu hasil terbesarnya adalah mewabahnya diskursus otonomi daerah yang kemudian dilegitimasi –meskipun belakangan direvisi– melalui UU NO. 22 dan 25 tahun 1999.

Namun sayangnya, outcome desentralisasi tidak sebagaimana diharapkan oleh para designer dan pendorongnya. Tesis tersebut setidaknya dikemukakan melalui serangkaian penelitian lapangan maupun pustaka yang dilakukan oleh Vedy R. Hadiz di Indonesia. Apa sesungguhnya latar belakang desentralisasi di Indonesia? Bagaimana praktek dan kendala yang dihadapinya? Kenapa mengalami kegagalan? Baca lebih lanjut

Mengapa Memilih Papua?

Catatan Pra Muspimnas (Bagian Pertama)

Berharap tidak akan ada aral melintang Muspimnas PMII akan di gelar di wilayah paling timur Indonesia. Bumi cendrawasih akan menjadi tuan rumah event tertinggi kedua dalam konstitusi PMII di bulan Desember mendatang. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, dipilihnya Papua berangkat dari pertimbangan strategis dan taktis PMII.

Pastinya, kabar lokasi Muspimnas di Papua disambut dengan komentar beragam yang penulis temui baik di Jakarta maupun di berbagai daerah. Pertanyaan-pertanyaan lainnya pun menyusul deras mengingat penulis merupakan salah seorang punggawa PB PMII.

Lebih banyak komentar bernada sumir terdengar di telinga penulis terkait dipilihnya Papua. Utamanya, persoalan biaya transportasi yang sangat mahal. Di luar itu, nyaris tidak ada argumentasi yang cukup menjadi landasan penolakan. Baca lebih lanjut

Membebaskan Pilkada Jakarta dari Isu SARA

Beberapa bulan yang lalu dunia dikejutkan oleh Donald Trump, seorang miliarder, yang mempertanyakan keabsahan tempat kelahiran Presiden Obama. Berharap meraih simpati dari kalangan republikan yang terkenal konservatif namun petaka yang didapat. Ulahnya menjadi cibiran banyak orang yang berbuntut kegagalan menjadi nominator utama dalam konvensi Partai Republik yang kini masih berlangsung.

Jauh sebelum lontaran Trump banyak isu miring pernah bermunculan. Obama disebut orang yang tidak jelas agamanya dan mungkin seorang muslim. Ia dituding pernah sekolah di madrasah ketika masa kecil di Jakarta. Bahkan, ia diumpamakan sebagai seorang komunis karena program-program yang ditawarkannya banyak yang mengedepankan keadilan sosial. Tudingan-tudingan yang tidak jelas dasarnya terus dilancarkan karena terjadi kefrustasian akut dalam upaya membendung laju Obama.

Bukannya berhasil, kebanyakan pemilih di Amerika justru secara sadar tetap memberi mandat kepada Obama sebagai Presiden kulit hitam pertama. Baca lebih lanjut

Strategi Foke yang Tidak Oke

Slogan satu putaran telah sirna seiring kesedihan tim sukses Foke-Nara. Rasa terkejut dan tak percaya jelas begitu terasa di markas pemenangan mereka di Jl. Diponegoro. Suasana sebaliknya berbeda, di Jl. Diponegoro di mana pendukung Jokowi-Ahok nampak bersuka cita.

Sebagai orang kampung Jokowi tidak gentar menyambangi kota besar. Ia mampu memimpin pasukan tempurnya dalam gerilya kota hanya kurang dari enam bulan.

Sedikitnya lima lembaga survey yang melakukan quick count telah mendeklarasikan Jokowi sebagai pemuncak klasemen. Diikuti Foke sebagai runner up. Empat kandidat lainnya tersingkir karena belum punya modal sosial kuat dan terlalu banyak bermanuver tidak sesuai kebutuhan. Baca lebih lanjut