the crisis of zionismSuasana haru diliputi kegembiraan luar biasa terjadi dalam Sidang Majelis Umum PBB tanggal 29 November 2012. Pangkalnya, pengaruh Amerika semakin pudar setelah gagal menjalankan misi diplomatik menjegal status baru bagi Palestina di PBB. Hanya mendapatkan dukungan dari 8 negara lainnya, termasuk Israel, Amerika harus mengakui bandul “imperium” sedang menjauh dari mereka. Sebanyak 138 negara mendukung peningkatan status Palestina dari negara non-member observer entity menjadi non-member observer state. Tekanan Amerika hanya berhasil menggoyahkan negara-negara yang semula mendukung beralih abstain. Jerman dan Inggris termasuk di dalamnya.

Setahun sebelumnya, Palestina juga telah meraih simpati 107 negara untuk keterlibatan mereka sebagai anggota di UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Mengarsir jauh lebih banyak dukungan dari yang dibutuhkan. Ancaman dari Amerika dan Israel terhadap pengurangan bantuan finansial bagi lembaga itu tidak berdampak banyak.

Kini, musuh Israel bukan hanya bangsa Palestina. Musuh mereka adalah mayoritas warga dunia yang menentang pendudukan dan menginginkan solusi perdamaian dua negara. Berasal dari berbagai  kalangan yang geram dengan praktik tidak manusiawi dan rasis pemerintah Israel. Gerakan ini juga lambat laun meluas di kalangan Yahudi Amerika.

Adalah Peter Beinart yang menginginkan perubahan kebijakan Amerika terhadap Israel melalui buku ‘The Crisis of Zionism’ yang ditulisnya. Diterbitkan setelah 9 tahun kematian Rachel Corrie, warga negara AS dan aktivis International Solidarity Movement, yang tewas ditabrak buldoser tentara Israel yang ingin menghancurkan pemukiman warga Palestina pada tahun 2003.

Siapakah Beinart? Ia merupakan professor ilmu politik dan jurnalistik di City University of New York, seorang zionis, dan mantan editor media The New Republic.

Ia menuding nilai-nilai zionisme telah corrupt (rusak). Sebagai gerakan politik, menurutnya, zionisme diciptakan secara alamiah sebagai gerakan liberal dan demokratis. Sejauh yang ia tahu, Theodore Herzl, pendiri gerakan Zionisme, menginginkan terbentuknya negara Yahudi yang menghargai cita-cita liberal, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama. Celakanya, nilai-nilai itu didistorsi dan dikompromikan oleh Israel dan Amerika dengan menyalahgunakan pengaruh dan kekuatan yang mereka miliki. Itulah yang menyebabkan terjadinya krisis dalam zionisme.

Ia melihat generasi pertama zionisme modern merefleksikan nilai-nilai luhur dalam proses pembentukan negara Yahudi. Punya kesadaran tinggi untuk menghindari kejahatan dari tindakan intoleransi dan sikap fanatik. Mereka menginginkan tanah air Yahudi menjadi tempat yang toleran di mana hak-hak sipil dimiliki oleh semua, termasuk penduduk beretnik Arab. Buktinya, keinginan ini bisa dilihat dari novel ‘Altneuland’ (Old New Land) yang ditulis oleh Herzl pada tahun 1902. Naskah deklarasi kemerdekaan Israel bahkan menyebutkan “complete equality of social and political right to all its inhabitants irrespective of religion, race or sex.”

Keinginan itu nyaris tidak lagi terlihat di dalam negara Israel. Kini, pemerintah Israel melakukan tindakan intoleran, kekerasan, dan rasis. Mereka juga dituding mempraktekkan politik apartheid dengan membangun tembok pembatas (green line)di Tepi Barat (West Bank). Ke depan, kebijakan-kebijakan keliru para pemimpin Israel, yang berasal dari sayap kanan, akan menyebabkan terisolasinya Israel dari pergaulan internasional yang berkarakter demokrasi liberal. Menurut Beinart, zionisme tanpa liberal-zionism berimplikasi tidak berfungsinya moralitas dan tanpa moral tidak akan pernah ada garansi Israel akan survive. Fenomena itu diistilahkan dengan cermat: liberalism was out, tribalism was in.

Ia kemudian membandingkan kebijakan Amerika di bawah Obama dengan Israel di masa Netanyahu. Ia berpandangan bahwa Obama jauh lebih mempraktekkan nilai-nilai zionisme ketimbang Netanyahu. Ia menyebut bagaimana Obama telah belajar dengan baik gagasan-gagasan social justice dari aktivis rabbi reformis di Chicago. Oleh karena itu, ia men-jugde Obama, yang meskipun bukan seorang Yahudi,  sebagai good Jew sementara Netanyahu sebagai bad Jew karena telah menjadi seorang tribalis.

Di luar prasangka buruk terhadap kebijakan pemimpin Israel, Beinart menyebut rusaknya tatanan zionisme juga akibat perilaku Yahudi Amerika.

Bagi Beinart, masalah terbesar adalah krisis yang terjadi di Amerika di mana semakin berkurangnya keterwakilan mayoritas Yahudi dalam lembaga Yahudi Amerika. Terutama dalam hal ini adalah AIPAC (The American Israel Public Affair Committee) yang merupakan kelompok lobby paling berpengaruh di Amerika. Ia menggambarkan komunitas itu sebagai sebentuk  plutokrasi yang didominasi oleh anggota-anggota yang sangat kaya. Terdiri dari individu-individu berpengaruh.

Mereka berada jauh dari pusat konflik di Timur Tengah. Anehnya, mereka juga selalu berasumsi bahwa situasi di Israel seolah-olah tidak berubah sebagaimana halnya di tahun 1939. Sebagai negara lemah yang senantiasa harus dibela. Mereka memainkan opini dengan terus mengobarkan narasi “victimhood”. Siapapun yang mengkritik Israel akan dianggap sebagai anti-semitism. Kartu itulah yang selalu dimainkan di Amerika untuk menekan Kongres dan Gedung Putih serta mendiskreditkan tokoh-tokoh politik yang dinilai kurang memiliki pembelaan terhadap kepentingan Israel. Padahal, menurut Beinart, penggunaan istilah dan definisi anti-semitism mengandung absurditas.

Keberadaan kelompok lobby yang powerful tersebut pada gilirannya semakin menciptakan jurang yang semakin jauh dari cita-cita zionisme. Apalagi, Israel telah menjelma menjadi negara kuat di Timur Tengah. Memiliki nuklir dan senjata-senjata tercanggih. Hal ini tentu bertolak-belakang dengan kondisi negara-negara Arab pada umumnya maupun kelompok-kelompok perlawanan yang memiliki senjata terbatas dan mengandalkan suicide-bombing. Oleh sebab itulah,Beinart menyebut Israel bukan lagi negara yang dihuni masyarakat berstatus “victimhood” melainkan “vulnerability”.

Lama-kelamaan kartu tersebut harus dikocok ulang dan diganti dengan kartu lainnya. Kenapa? Negara-negara Barat yang biasanya menjadi pendukung sedikit demi sedikit telah berubah, dengan tingkat kesadaran yang berbeda, menjadi penentang pendudukan atas Tepi Barat dan Gaza.

Setelah melihat gejala terdistorsinya pandangan dan praktik zionisme, ia memberikan saran untuk warga Yahudi Amerika. Menurutnya, “we need a new American-Jewish story, built around this basic truth: we are not history’s permanent victims.” Untuk mencapainya, dibutuhkan debat terbuka terkait kebijakan Israel mengingat selama ini generasi muda Yahudi Amerika telah teralienasi oleh komunitas Yahudi terorganisir seperti AIPAC.

Alana Newhouse menulis dalam review-nya (Washington Post, 30/03/12) bahwa cara pandang Beinhart secara keseluruhan dibangun atas dasar: “Israel must save the Palestinians, and American Jews must save Israel. By saving the Palestinians, Israel will save itself, and by saving Israel, American Jews will save themselves.”

Buku yang ditulis Beinart adalah cermin kegelisahan generasi muda Yahudi Amerika yang melihat bahwa persepsi masyarakat Yahudi Amerika telah dibangun secara monolitik oleh komunitas Yahudi tertentu. Akibatnya, zionisme tidak hanya semakin menjauh dari cita-cita idealnya tetapi juga menciptakan “kerentanan” bagi para pemeluk Yahudi. Upayanya layak diapresiasi untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. Namun, ia belum memberikan jawaban yang cukup memuaskan mengapa individu yang tergabung di dalam AIPAC, hingga saat ini, memberikan dukungan yang membabi buta bagi Israel. Apakah ada motif lain selain motif keagamaan?

The last but not least, Beinart bukan satu-satunya Yahudi yang melancarkan kritik terhadap Yahudi sayap kanan. Sebelumnya, telah banyak tokoh Yahudi yang menyerang Israel atas berlarut-larutnya pendudukan dan tindakan anti-humanism. Naturei-Karta (Guardians of The City), organisasi Yahudi yang didirikan untuk melawan zionisme, bahkan berpendirian lebih ekstrim: menolak konsepsi negara Yahudi berdaulat karena bertentangan dengan hukum Yahudi. Pastinya, hukum Tuhan dan keinginan manusia selalu mengandung multiinterpretasi. Bukan?