Slogan satu putaran telah sirna seiring kesedihan tim sukses Foke-Nara. Rasa terkejut dan tak percaya jelas begitu terasa di markas pemenangan mereka di Jl. Diponegoro. Suasana sebaliknya berbeda, di Jl. Diponegoro di mana pendukung Jokowi-Ahok nampak bersuka cita.

Sebagai orang kampung Jokowi tidak gentar menyambangi kota besar. Ia mampu memimpin pasukan tempurnya dalam gerilya kota hanya kurang dari enam bulan.

Sedikitnya lima lembaga survey yang melakukan quick count telah mendeklarasikan Jokowi sebagai pemuncak klasemen. Diikuti Foke sebagai runner up. Empat kandidat lainnya tersingkir karena belum punya modal sosial kuat dan terlalu banyak bermanuver tidak sesuai kebutuhan.

Hasil sementara ini cukup bisa dipercaya karena lembaga-lembaga survey tidak ingin kehilangan kredibilitasnya. Mereka malu untuk merekayasa siapa yang kalah dan menang meski diguyur hujan koin sekalipun.

Insting Jokowi berjalan baik. Sejak pagi ia menunggu lampu hijau dari kandidat-kandidat lainnya untuk bisa silaturahmi. Dengan cerdik ia menyambangi HNW-Didik sebelum seluruh TPS ditutup secara resmi. Tak peduli lelah, Ia masih meladeni wawancara TV hingga larut malam. Strategi yang brilian untuk menghemat biaya kampanye dan menunjukkan kerendahan hati.

Sebaliknya, Foke masih terdengar arogan dalam konferensi pers sore harinya.

Jokowi menjadi kejutan bagi para pengamat. Ia tidak sekedar mengungguli HNW yang terkenal dengan soliditas dan militansi basis massanya tapi juga calon petahana yang digadang-gadang akan menang mudah. Untuk berhasil, ia bekerja keras. Isu keberhasilannya sebagai salah satu walikota terbaik di dunia di eksploitasi. Relawannya bergotong-royong dengan militansi tinggi. Buahnya, masyarakat percaya ia mampu menyulap Jakarta. Mereka mau membeli baju kotak-kotak dan memakainya sebagai identitas kolektif dan simbol dari mereka yang berlatarbelakang apapun menginginkan perubahan.

Untuk bisa bersaing head to head, Foke perlu merevisi taktik perangnya. Ia harus membuang tradisi menjauhi media dengan memilah-milah ajakan wawancara. Merubah iklan glamor yang tidak bisa mendalami perasaan. Menata ulang dan me-reload pasukannya karena kebanyakan hanya bromocorah. Menghilangkan stigma hanya mengandalkan dukungan etnik tertentu. Mau tersenyum dan bercengkrama tanpa sungkan dengan masyarakat. Tampilkan kembali karakter pluralis yang karenanya dia dulu terpilih.

Ia harus ingat bahwa Jakarta merupakan kota metropolitan dan bukan kampung besar di mana kesan eksklusif hanya akan membuat perolehan suara semakin eksklusif.

Pilkada putaran pertama Jakarta menjadi alarm bagi politisi yang tidak bermutu. Isu primordial dan uang sudah tidak lagi laku. Besar dan banyaknya partai pendukung tidak menjadi garansi.

Masyarakat sudah belajar, mengerti, dan memanfaatkan demokrasi. Mereka akan menghukum para penipu yang terlalu mengandalkan perekayasaan citra dan latarbelakang. Mereka memilih kandidat yang mau berkomunikasi tanpa sekat dan punya prestasi hebat. Kepercayaan menjadi kunci melebihi gengsi dan latar palsu ideologi. Bukan?